Senin, 21 Juni 2010

Hubunagan muslim dengan non muslim

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia seluruhnya yang hidup di dunia ini dikelompokkan dalam dua kelompok besar : yaitu manusia (orang) muslim dan non muslim. Allah SWT mengajarkan kepada kita semua, bahwa adanya perbedaan bangsa dan suku maupun agama adalah agar manusia bisa saling mengenal, lalu bantu-membantu membangun dunia ini, bukan untuk saling bertentangan, apalagi saling bermusuhan dan membunuh.
Kita wajib bersyukur negara dan bangsa yang majemuk baik dari segi kultur, etnis, bahasa dan agama inidapat menjalin kehidupan yang harmonis satu sama lain. Kita dapat hidup berdampingan secara rukun, saling membahu dan membantu untuk kemaslahatan bangsa dan negara serta persaudaraan kemanusiaan.
Kondisi tersebut harus terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan karena di samping hal itu sejalan dengan jiwa ajaran Islam yang rahmatal lil’alamin, juga membawa manfaat dan maslahat bagi kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial, intern maupun antar umat beragama.
Namun kondisi yang indah itu, seringkali dikotori oleh nafsu-nafsu serakah manusia, seperti keinginan untuk memaksakan orang lain memasuki agama dan keyakinannya, sehingga terjadilah benturan antara misi dan dakwah keagamaan. Misi dan dakwah keagamaan adalah merupakan perintah internal masing-masing agama untuk mengajak orang lain ke jalan yang diyakini kebenaran. Namun hal itu harus diikuti dengan sikap terbuka, dengan prinsip kebebasan untuk memilih agama. Begitu juga hubungan antaretnis, suku bangsa, seringkali menimbulkan konflik social antara satu dengan lainnya terutama hubungan muslim dan muslim. Bentuk lain upaya mengotori kerukunan hidup antar umat beragama itu adalah upaya mengaburkan keyakinan agama, pendangkalan aqidah, pencampuran aqidah dan syariah dengan agama lain serta gerakan anti agama (sekularisme) baik dengan cara yang halus maupun kekerasan yang terjadi di dalam hubungan muslim dan non muslim.
Dari pernyataan tersebut menjadi kesempatan dalam tulisan makalah ini untuk memaparkan ayat-ayat Quran tentang hubungan muslim dan non muslim. Adapaun ayat-ayatnya, antara lain :
1. Surat al-Baqarah ayat 100-101
2. Surat Ali Imran ayat 69, 75 dan 128
3. Surat An Nisa ayat 51-53
4. Surat Al Maidah ayat 78-83
Untuk lebih jelas lagi dalam memaparkan ayat-ayat di atas yang mengenai tentang hubungan muslim dan non muslim dalam aspek kehidupan sehari-hari yang menjadi ilmu pengetahuan dan pegangan bagi umat Islam agar berhati-hati dan tidak terjebak ke jalan yang salah untuk bermasyarakat antara umat muslim dan non muslim sehingga menjadi menjadi masyarakat yang rukun antar sesama manusia.





BAB II
TAFSIR QURAN SURAT AL BAQARAH AYAT 100-101

A. Teks dan Terjemah Ayat
          .                       (البقرة : 100-101)
“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).” (Q.S. al-Baqarah : 100-101)

B. Tinjauan Bahasa

Suatu janji untuk beriman kepada Nabi Muhammad SAW jika ia telah dibangkitkan atau menjanjikan kepada Nabi tidak akan membantu orang-orang musyrik untuk menentangnya.

Maksudnya menjauhkannya dengan cara melanggarnya

Di sini adalah Nabi Muhammad SAW


Maksudnya kitab Taurat
 
Mereka tak mau mengamalkan isinya berupa keimanan kepada Rasul dan lain-lain.
  
Seolah-olah mereka tidak mengetahui akan isinya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang sebenarnya atau bahwa Taurat itu adalah Kitabullah.

C. Redaksi
Menurut suatu riwayat, ketika seorang Yahudi yang bernama Malik Ibnu Saif mengatakan ketika Nabi Muhammad SAW dibangkitkan lalu menyebutkan perjanjian-perjanjian Allah yang dibebankan kepada mereka dan juga janji-Nya kepada mereka tentang Nabi Muhammad SAW: “Demi Allah, Allah tidak menjanjikan apa-apa tentang Muhammad, dan Allah tidak mengambil perjanjian apa pun terhadap kami.” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat,”Apakah setiap kali mereka membuat perjanjian, sebagian mereka melemparkannya.” Berkenaan dengan firman Allah, “bahkan mayoritas mereka tidak beriman: al-Hasan berkata, ”adalah benar bahwa tiada perjanjian yang mereka ikrarkan di bumi ini melainkan mereka melanggarnya dan mencampakkannya. Hari ini mereka berjanji, akan tetapi esok harinya mereka mengingkarinya.”
Kaum yang dicela Allah karena mereka mencampakan janji dan mendustakan Rasulullah yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh manusia ialah kaum yang menemukan sifat dan karakter Muhammad dalam kitab-kitabnya. Dalam kitab itu mereka diperintahkan supaya mengikuti, mendukung dan menolong Muhammad, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang di dalam Taurat dan Injil.”(al-A’araf : 157) oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang melemparkan Kitab Allah ke belakngnya seolah-olah mereka tidak mengetahui.” Yakni, segolongan di antara mereka melemparkan ke belakang Kitab Allah yang ada di tangannya yang mengandung berita gembira ihwal Muhammad SAW. Mereka meninggalkan seolah-olah mereka tidak mengetahui isinya. Kemudian, perhatiannya tertuju kepada palajaran sihir dan para pengikutnya. Mereka hendak menipu Rasulallah SAW dan menyihirnya dengan sisir berikut rambut rontok yang ada padanya dan mayang kurma yang kering dan diletakkan di bibir sumur Dzi Arwan. Penyihiran dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Lubaid ibnul A’sham semoga Allah melaknat dan memburukaannya. Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan rahasia itu, menyembuhkannya, dan menyelamatkannya dari sihir, sebagaimana hal itu dikemukakan secara luas dalam shahihain, dari Aisyah Ummul Mukminin r.a.
Kebanyakan orang-orang Yahudi tidak beriman kepada Taurat. Di dalam Taurat diterangkan bahwa melanggar janji itu tidak dibolehkan, namun mereka tetap melanggarnya. Kebanyakan mereka tidak mau beriman kepada Nabi. Hal ini termasuk suatu berita gaib yang hanya bisa didapatkan dari yang Maha Tahu segala apa yang tersembunyi. Dalam ayat ini Allah menerangkan dua keadaan Ahlul Kitab: Pertama, mereka tidak dapat dipercayai, karena kebanyakan mereka sudah terkenal sebagai pelanggar janji di setiap masa. Kedua, kebanyakan mereka tidak dapat diharapkan untuk menjadi teman, karena kesesatan telah sangat berpengaruh dalam jiwa mereka.
Korelasi penjelesan ayat di atas dengan hubungan muslim dan non muslim adalah seorang muslim harus memiliki tatanan teologis atau keyakinan,Islam mengajarkan dua prinsip yang harus diikuti oleh umat Islam, yaitu prinsip ketegasan dan prinsip kebebasan. Ketegasan keyakinan atau aqidah Islam dinyatakan dengan prinsip Tauhid, yaitu keesaaan Tuhan Allah, sebagaimana diisyaratkan dengan jelas oleh ayat 255 Al Baqarah yang sering dikenal ayat kursi. Ayat kursi adalah sangat tegas dalam menyatakan keesaaan (wahdaniyatullah), kekuasaan (qudratullah), ilmu Allah (ilmullah) dan segala kebesaranNya atas segala yang wujud. Tegasnya tauhid mengimplikasi kepada tegasnya unuk menolak segala bentuk syirik (kemusyrikan). Jadi, dalam pandangan Islam kebenaran hanya satu yaitu kebenaran tauhid dan di luar itu adalah kmusyrkan yang diliputi kebatilan dan kesesatan sehingga yang ada pada mereka (Yahudi) walupun sudah mngetahui isi kitabnya namun mereka berpaling dari pernyataan yang ada pada kitab yang membenarkan Nabi Mhammad SAW yang harus diimani dan diikuti ajarannya yang disebakan kebanyakan mereka sudah terkenal sebagai pelanggar janji di setiap masa.
Hingga saat ini dan kebanyakan mereka tidak dapat diharapkan untuk menjadi teman, karena kesesatan telah sangat berpengaruh dalam jiwa mereka.
Terhadap mereka bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah mendahului orang Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam”. Dan sahabat serta pembantu Nabi SAW, Anas bin Malik, berkata bahwa Nabi SAW, bersabda : “apabila ahli Kitab mengucapkan salam kepada kamu, maka katakanlah, “wa alaikum”.” (H.R. Bukhari dan Muslim)


BAB III
TAFSIR QURAN SURAT ALI IMRAN AYAT 69, 75 DAN 128

A. Teks dan Terjemah Ayat
•             (آل عمران : 69)
“Segolongan dari ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.” (Q.S. Ali Imran : 69)

           •                           (آل عمران : 75)
“Di antara ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. mereka Berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka Mengetahui.” (Q.S. Ali Imran : 75)

            (آل عمران : 128)
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima Taubat mereka, atau mengazab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Q.S. Ali Imran : 128)
B. Tinjauan Bahasa
   
Maksudnya dosa kesesatan yang mereka lakukan tetimpa pula atas mereka.
 
Dikembalikannya kepadamu yang disebabkan sifat amanatnya. Misalnya Abdullah bin Salam yang mendapat amanat atau titipan dari seorang laki-laki sebanyak 1200 uqiah emas, maka dipenuhinya amanat itu dengan sebaik-baiknya.

Disini adalah dosa. Sebabnya karena mereka menghalalkan menganiaya oaring-orang yang berlainan agama dengan mereka dan pengakuan itu mereka nisbatkan pula kepada Allah SWT.
   
Maksudnya dalam menisbatkan penghalalan itu kepadanya.
 
Allah yang menerima Taubat mereka bila masuk kedalam agama Islam.

C. Redaksi
Segolongan ahbar dan para pemimpin ahli kitab bermaksud benar menjerumuskan kamu hai umat Islam ke dalam kesesatan dengan menimbulkan syubhat-syubhat yang menimbulkan keraguan dalam agamamu dan mengembalikannya kamu kepada kufur. Karena terus-menerus berusaha menyesatkan orang, mereka tidak mempunyai kesempatan memperhatikan jalan-jalan petunjuk. Mereka memejamkan mata, tidak mau melihat kepada kenabian Muhammad. Mereka itu tidak mempergunakan akal sebagaimana mestinya dan merusakan fitrah mereka sendiri.
Allah Ta’ala memberitahukan kedengkian kaum Yahudi kepada kaum mukmin dan niat mereka untuk menyesatkan kaum mukmin. Meraka tidak merasa dan tidak menyadari keburukan yang akan menimpa diri mereka. Akal mereka tidak dipergunakan untuk memikirkan hujjah-hujjah Allah yang diberikan kepada Nabi-Nya. Ini adalah suatu pencelaan yang paling buruk bagi mereka. Mereka dikatakan tidak mempunyai perasaan.
Di antara ahlul kitab ada golongan yang terus-menerus berusaha memperdayakan para muslimin supaya meninggalkan agama. Dan di antara mereka ada pula satu golongan yang memandang halal segala harta umat Islam dan umat yang lain lantaran mereka mangaku bahwa Kitab Taurat hanya mencegah mereka mengkhianati sesama Bani Israil saja. Dalam pada itu, oleh karena dalam tiap-tiap jamah ada yang baik dan ada yang buruk, maka Tuhan menerangkan juga adanya golongan yang baik itu dengan perkataan : ”Dan diantara ahli kitab ada orang yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya ia menunaikan kepada engkau”, seperti Samuil ibnu Adiya Al Yahudi.
Ayat ini membagi para ahlul kitab kepada dua golongan :
Pertama: Golongan yang dipercayai, baik terhadap sedikit maupun terhadap banyak,seperti Abdullah ibnu Salam yang telah menyimpan seribu dua ratus auqiyah emas dan telah menyimpan harta seorang Quraisy, dia mengembalikan kepada yang berhak sebagaimana mestinya.
Kedua: Golongan yang mengkhianati amanat. Apabila kita menyimpan sesuatu kepadanya, pasti ia ingkari, tidak akan dikembalikkan,terkecuali apabila terus-menerus kita mendesaknya atau kita adukan halnya kepada hakim, seperti Ka’ab ibnu Al Asyraf yang pernah mengingkari dinar yang disimpan oleh seorang Quraisy.
Mereka berkhianat, tidak mau menunaikan amanah, karena menganggap bahwa mereka berpendapat bahwa mereka tidak dicela karena makan harta orang Arab. Mereka berpendapat bahwa segala bangsa yang tidak mau memeluk agama dan tidak masuk ke dalam suku mereka, tidak diperdulikan Allah, tidak mempunyai hak apa-apa terhadap hak apa-apa terhadap hartanya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jabir bahwa dalam masa jahiliyah segolongan mulimin menjual barang kepada bangsa Yahudi, sebelum mereka Islam. Sesudah mereka Islam mereka menagih harga. Para Yahudi menjawab: Kamu tidak berhak lagi menerima pembayaran dari kami dan tak ada lagi atas amanah yang harus kami tunaikan, karena kamu telah meningalkan agamamu. Demikian ketetapan kitab kami. Firman Allah Ta’ala,”Hal itu disebabkan mereka beranggapan,”Tidak ada dosa atas kami terhadap oaring-orang ummi,” Yakni, sesungguhnya yang mendorong mereka berbuat ingkar, yakni mengingkari hak orang lain, ialah anggapan mereka : Dalam agama kami tidaklah berdosa memakan harta kaum ummi, yaitu bangsa Arab, karena Allah telah menghalalkan bagi kami. Mereka mengetahui kedustaan mereka dalam soal itu, karena segala yang datang dari Allah, tentulah ada dalam kitabnya-Nya. Di dalam Taurat tak ada keterangan yang membolehkan berkhianat terhadapa bangsa Arab yang buta huruf (ummi), memakan harta-harta mereka dengan cara yang tidak sah. Akan tetapi mereka dalam hal itu bukan berpegang kepada taklid, karena demikian pendirian pendeta-pendeta mereka.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Anas bahwasannya Nabi SAW setelah patah gigi susunya, luka mukanya hingga mengalir darah, beliaupun berkata : “Bagaimana mendapat kemenangan orang yang berbuat demikian terhadap Nabinya”. Beliau berkata demikian sambil berdo’a, maka turunlah ayat : Laisa laka minal amri syaiun.
Peperangan Uhud ini sunguh mengandung beberapa hikmah keagamaan, kemasyarakatan dan kemiliteran. Oleh karena para muslimin tidak meperhatikan sebab-sebab kemenangan, mereka pun mengalami penderitaan pahit. Dan bencana itu, apabila tertimpa, tidak saja mengenai orang yang menjadi penyebabnya. Jalan kemenangan atas musuh, ialah : menyiapkan segala perbekalan peperangan dan pandai mengatur siasat. Kekuatan itu menghendaki ilmu dan harta, tidak dapat diperoleh kekayaan dan kekuatan ekonomi, sebelum berkembang keadilan dalam masyarakat dan berwujudnya Ruhut ta’awun, bantu membantu dan sorga.
Atau supaya Allah memberikan tuntunan untuk menerima taubat mereka, atau mengadzabkan mereka di dunia dan akhirat karena mereka kafir. Oleh karena itu, Dia berfirman,”Karena sesunguhnya mereka itu adalah orang-orang yang zalim” sehingga berhak mendapatkan adzab. Al Bukhari meriwayatkan dari Salim, dari ayahnya, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW. mengatakan apabila beliau bangkit dari ruku dalam rakaat salat subuh, ”Ya Allah, laknatlah fulan bin fulan. Ya Allah, laknatlah al Harits bin Hisyam, Ya Allah, laknatlah Suhail bin Amr. Ya Allah, laknatlah Shafwan bin Umayah.” Maka diturunkanlah ayat yang tadi.
Korelasi antara ayat di atas dengan masalah hubungan muslim dan non muslim bahwasannya al Quran menggambarkan pendirian, pandangan, sikap dan tindakan Ahli Kitab itu, terutama umat Yahudi dan Nasrani, terhadap agama Islam dan kaum Muslimin. Di antara mereka, sebagimana umumnya umat yang banyak ini ada yang baik dan ada yang jahat. Semuanya diterangkan secara ringkas untuk menjadi perhatian dan pemikiran.
Diharapkan kepada kaum muslimin supaya waspada terhadap tujuan dan tipu muslihat Ahli Kitab yang hendak menyesatkan, menjadi kafir sesudah beriman. Juga kepada Ahli Kitab diperingatkan, supaya jangan mencampurbaurkan yang hak dengan yang bathil, menyembunyikan kebenaran dan menghalangi orang lain menempuh jalan Allah. Kepada uamt Kristen, diperingatkan supaya jangan melampui batas dalam agama, jangan mengatakan Tuhan itu tiga. Ditegaskan bahwa Isa Al Masih hanyalah seorang Rasul, bukan Tuhan, bukan oknum Tuhan atau anak Tuhan. Diterangkan pula, bahwa di antara mereka ada yang beriman dan banyak pula yang jahat.


BAB IV
TAFSIR QURAN SURAT AN NISA AYAT 51-53

A. Teks dan Terjemah Ayat
                   .            •.         •• •. (النساء : 51-53)
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka Itulah orang yang dikutuki Allah. barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan) ? kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia.” (Q.S. an-Nisa : 51-53)

B. Tinjauan Bahasa

Makana asalnya adalah sesuatu yang hina yang tidak mengandung kebaikan, maksudnya di sini adalah angan-angan, khurafat dan kebohongan.

Sesuatu yang jika diibadati dan diimani akan menyebabkan seseorang berbuat aniaya dan keluar dari kebenaran seperti : makhluk yang disembah, pemimpin yang diikuti dan hawa nafsu yang dituruti. Diriwayatkan dari Umar dan Mujahid bahwa taghut adalah setan.

•
Lubang yang tampak pada biji, dan dari situ tumbuhlah pohon kurma. Ia dijadikan perumpaan untuk sesuatu yang hina dan tidak ada harganya, sebagaimana halnya membuat perumpaan dengan kulit tipis yang melekat pada biji kurma.

C. Redaksi
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang yang mendirikan partai dari kaum Quraisy, Ghathanfan dan Bani Quraizhah adalah Huyay bin Akhtab, Sallam bin Abu Huqaiq, Abu ‘Imarah dan Haudzah bin Qais, sedang sisanya adalah dari Bani Nadhir. Ketika mereka datang kepada kaum Quraisy, meraka (kaum Quraisy) berkata, “Mereka adalah orang-orang alim Yahudi dan orang-orang yang mengerti tentang kitab-kitab pertama. Maka tanyakanlah kepada mereka,apakah agama kalian yang lebih baik ataukah agama Muhammad?” setelah ditanya, mereka menjawab, “Agama kalian lebi baik daripada agamanya, dan kalian lebih berpetunjuk daripada dia dan orang-orang yang mengikutinya.” Maka Alllah menurunkan : “Alam tara ilal ladzina utu nashiban minal kitab ………milkan adzima.” Demikian dikatakan oleh as-Suyuti di dalam Lubabun Nuqul.
Ada yang mengatakan, bahwa ayat-ayat ini diturunkan setelah atau sewaktu perang Ahzab, karena orang-orang Yahudi melanggar perjanjian Nabi SAW, dan bersepakat dengan kaum musyrikin untuk memusnahkan kaum Muslimin, agar tidak menguasai mereka. Oleh karena itu, mereka mengutamakan orang-orang musyrik atas kaum Mu’minin. Pengutamaan ini barangkali tampak sewaktu ada panggilan untuk berperang.

D. Penjelasan
          
Tidakkah kamu memperhatikan keadaan orang-orang yang diberi bagian al Kitab bagaimana mereka telah diharamkan untuk mendapat petunjukNya, di samping petunjuk akal dan fitrah. Bagaiman mereka teleh beriman kepada kebohongan dan khuirafat, membenarkan berhala-berhala dan patung-patung, serta membantu kaum musyrikin untuk kaum mu’minin yang membenarkan kenabian para Nabi mereka dan mengakui kebenaran kitab-kitab mereka?
        .
Mereka mengatakan, bahwa kaum musyrikin lebih lurus jalannya dalam masalah agama daripada kaum mu’minin yang mengikuti Nabi Muhammad SAW. Ibnu Jabir mengatakan, Alah menerangkan bahwa orang-orang Yahudi yang diberi bagian dari Al Kitab itu mengagungkan selain Allah dengan beribadah dan tunduk kepadanya, dengan mentaati di dalam kekufuran dan maksiat kepada Allah dan RasulNya. Allah menerangkan pula,mereka mengatakan bahwa orang-orang yang kafir kepada Allah itu lebih benar daripada orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya lebih lurus dan lebih benar daripada agama orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya.
Diriwiyatkan dari Ikrima, bahwa Ka’ab Bin Asyraf pergi kepada kaum musyrikin dari kaum kafir Quraisy, meminta agar mereka menghimpun tentara untuk memerangi Nabi Nuhammad SAW dan menyuruh mereka supaya memeranginya. “Maka, mereka berkata, “Sesungguhnya kalian adalah ahli kitab, dan dia (Muhammad) juga ahli kitab, kami khawatir bahwa ini suatutipu daya dari kalian. Maka, ia pun sujudlah dan berimanlah kepada sua berhala ini.” Maka, ia pun melakukannya. Mereka bertanya, “Siapakah yang lebih berpetunjuk, kami ataukah Muhammad? Sesungguhnya kami mengurbankan Unta yang besar dan tinggi, menuangkan susu kepada air, mengadakan hubungan silaturahmi, menjamu tamu dan berthawaf di rumah (Ka’bah) ini, sedangkan Muhammad memutuskan hubungan silaturahminya dan keluar meninggalkan negerinya.” Dia menjawab, “Sesunggunya kalianlah yang lebih baik dan berpetunjuk.:
Kemudian Allah merengakan akibat buruk perbuatan mereka. Dia berfirman :
    
Mereka adalah orang-orang yang telah ditetapkan oleh sunah Allah terhadap makhlukNya untuk jauh dari rahmat, karunia dan kemurahanNya.
      •.
Baranga siapa dijauhkan dari rahmatNya, maka tidak adkan ada seorang pun yang dapat menolongnya selain Dia, karena tidak ada seorang pun yang dapat mengubah sunnah-sunnahNya terhadap makhlukNya. Dia telah menjadikan ketelantaran sebagai bagian orang-orang yang beriman kepada sembahan-sembahan selain Allah dan taghut, karena mereka telah melanggar sunnah-sunnah fitrah dan mengikuti khurafat serta angan-angan kosong. Selain itu, Allah hanya menolong kaum mu’minin lantaran mereka menjauhi semua itu :
وَكَانَ حَقًّ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ yang artinya “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(Ar Rum: 47)

Setalah menjelakkan mereka karena berman kepada sembahan-sembahan selain Allah, taghut dan mengutamakan kaum musyrikin atas kaum Mu’minin, kemudian Allah berpindah menjelakan mereka karena kabakhilan, egoisme dan ketamakan mereka untuk dapat meraih kembali kerajaanya di akhir zaman, dan angan–angan mereka akan adanya seseorang di antara mereka yang memperbarui kerajaan dan negaranya, serta berseru kepada agamanya. Allah berfirman :
    
Sesungguhnya mereka tidak mempunyai bagian dari kerajaan, karena mereka telah menghilangkannya dengan kezhaliman, keaniayaan dan keimananan kepada sembahan-sembahan selain Allah dan dan taghut.
   •• •.
Sekiranya mereka mendapatkan bagian dari kerajaan itu, niscaya mereka akan mengikuti jalan kebakhilan dan egoisme, kemudian akan menumpuk segala keuntungannya untuk diri mereka tidak akan memberikan sedikit pun daripadanya kepada manusia.
Ringkasnya, orang-orang Yahudi itu bersifat egois dan bakhil. Mereka merasa sempit jika ada kaum selain mereka yang mengambil keuntungan dari mereka. Jika mereka telah memiliki kerajaan, maka mereka akan melarang oaring lain untuk mengambil keuntungan dari mereka walau sedikit. Orang yang mempunyai sifat kaum Yahudi ini sangat tidak senang bila lahir seorang Nabi dari bangsa Arab, yang para sahabatnya mempunyai kerajaan,kemudian Bani Israil tunduk kepada mereka. Keadaan mereka ini masih tetap hingga sekarang. Kalaupun mereka dapat mengembalikan kerajaan ke Baitul Maqdis dan sekitarnya, itu mereka lakukan dengan mengusir kaum Muslimin dan Nasrani dari negeri yang suci itu, dan tidak memberi mereka sedikit pun daripadanya.
Korelasi penjelasan ayat di atas dengan hubungan muslim dan non muslim adalah dalam menjalin hubungan muslim dan non muslim baik dikalangan masyarakat sebagai warga Negara ataupun internasional, Islam pun memiliki prinsip dan aturan main sendiri. Hal ini telah dijumpai dalam sirah Nabi dan para sahabatnya, misalnya bahwa mereka tidak bekerjasama dengan pemerintahan non muslim dalam kekafiran, kemusyrikan, kesetian dalam kejayaan dan agama mereka (non muslim). Ajaran Islam hanya melakukan hubungan duniawi yang baik di luar aqidah mereka yang bathil itu.
Allah SWT sudah menetapkan undang-undang yang mengatur hubungan antara yang muslim dan non muslim untuk ,ewujudkan saling mengenal dan membantu, antara lain :
1. Antara muslim dan non muslim bahkan mereka adalah kafir zimmi maka kita harus saling berlaku baik dan saling bertindak adil, tidak boleh saling menzalimi. Dalam hadis dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ingatlah! Barang siapa berbuat zalim kepada kafir zimmi yang telah mengikat janji atau mengurangi haknya, atau ia mengurangi haknya, atau ia memberikan beban yang tidak sanggup dipikulnya, atau ia mengambil sesuatu darinya dengan niat yang tidak baik, maka saya akan menjadi lawannya pada hari kiamat”.(H.R. Abu Daud dan Al Baihaqi)
2. Syariat Islam tidak mengenal perbedaan agama dalam bertetangga. Maksudnya, bahwa muslim boleh hidup berdampingan dengan orang yang non muslim dan harus menghormati hak tetangga itu.
3. Dalam hal pemeliharaan amanat dan kesetiaan pada janji, juga tidak mengenal perbedaan agama. Apabila orang muslim sudah menerima amanat dari orang non muslim, maka amanatnya itu harus dijaga dan apabila orang muslim berjanji dengan mereka, maka kita harus menepati janji itu.



BAB V
TAFSIR QURAN SURAT AL MAIDAH AYAT 78-83

A. Teks dan Terjemah Ayat
                • .           .                    .     •          . •  ••          ••         •      .                   •   . (المائدة : 78-83)
“Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).” (Q.S. al-Maidah : 78-83)


B. Tinjauan Bahasa
اَللَّعْنُ
(kutukan) : tidak mendapat belas kasih dan pemeliharaan Allah.
  
Tolong-menolong dengan orang-orang kafir, dan menjalankan mereka memandang baik hawa nafsu mereka.

Orang-orang yang menyimpang dari keimanan.
 
Ulama-ulama agama Nasrani

Orang-orang ahli ibadah Nasrani
  .
Maksudnya orang-prang yang mengakui dirinya beriman kepada keduanya yakni beriman kepada Al Quran dan Nabi Muhammad SAW.

C. Redaksi
Allah telah mengutuk orang-orang kafir Bani Israil dalam Zabur maupun Injil lewat lidah NabiNya, Nabi Daud dan Nabi Isa putra Maryam. Oleh Nabi Daud as, telah dikutuk orang-orang yang melanggar aturan pada hari sabtu. Atau, telah dikutuk orang-orang yang keterlaluan dalam bermaksiat secara umum. Begitu pula Nabi Isa as, sebagai Nabi mereka terakhir, telah mengucapkan kutukannya atas mereka.
Adapun sebab dari kutukan yang berlaku terus sepanjang zaman itu, tak lain karena mereka terus-terusan melakukan maksiat dan menentang agama, demikian sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,”وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ”.
Sesudah itu, Allah SWT menerangkan sebab-sebab merekam melakukan maksiat secara terus-menerus dan senantiasa melampaui batas. FirmanNya: ”Kaanu layatanahauna anmungkarin fa’aluh”. Adalah menjadi kebiasaan mereka, bahwa yang seorang tak mau melarang yang lain dari kemungkaran yang dilakukannya, betapa buruk dan besar bahayanya. Padahal, melarang dari kemungkaran adalah benteng agama, pagar segala keutamaan dan kesopanan. Apabila para pengumbar nafsu telah berani terang-terangan melakukan kefasikan dan dosa-dosa, kemudian dilihat oleh orang-orang jahat kainnya, tentu mereka pun akan meniru. Sesudah itu, orang tak lagi merasakan jeleknya perbuatan mereka, dan akhirnya menjadi biasa, ujungnya akan lenyap kekuasaan agama dari hati mereka, dan dibuanglah hukum-hukum agama ke belakang punggung. Ayat tersebut merupakan isyarat, betapa luas tersebarnya kemungkaran di kalangan Bani Israil, dan meratanya bermacam-macam kerusakan. Kalau tidak demikian, tentu hilangnya saling menegur takkan menjadi adat dan kebiasaan mereka.
Sungguh perbuatan mereka itu sangat buruknya. Munkar, apabila telah berkembang dalam sesuatu kaum, dan tak ada yang mencegahnya, menjadilah yang demikian itu adapt kebiasaan lalu hilanglah pengaruh dan wibawa agama. Mencegah mungkar itulah yang membentengkan agama, sedang membiarkan mungkar itu berkembang, adalah suatu kesalahan besar, istimewa jika yang membiarkan itu orang-orang agama sendiri.
Engkau lihat Rasul hai Rasul, kebanyakan ahlul kitab membuat janji setia dengan orang-orang musyrikin dan menggerakkan mereka untuk menentang engkau, padahal engkau beriman akan Allah dan akan apa yang diturunkan kepada Rasul-rasulNya sedangkan para musyrikin itu tiada beriman akan sebuah kitab dan tiada pula akan seorang Rasul dan tiada pula akan menyembah Tuhan yang Esa. Diriwayatkan bahwa Ka’ab ubnu Al Asyraf dan sahabat-sahabatnya pergi ke Mekah untuk mengerahkan para musyrikin menolak ajaran mereka. Sungguh buruk apa yang mereka kemukakan untuk iri mereka. Mereka mengemukakan pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan Allah membenci dan memurkai dan kelak akan dibalas dengan seburuk-buruk pembalasan dan kekal mendekam dalam neraka.
Sekiaranya orang Yahudi yang membuat janji setia dengan orang musyrikin, benar-benar beriman akan Allah dan akan Nabi Musa sebagaimana yang mereka dakwakan dan mereka beriman akan apa yang diturunkan kepada Musa,tentulah mereka tidak mempergunakan orang-orang musyrikin Quraisy menjadi penolong-penolong dan sahabat setia mereka untuk menentang Nabi.
Sebenarnya persekutuan yang terjadi antara oaring Yahudi dan musyrikin, karena kedua golongan itu tidak percaya kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya. Memang oaring-orang itu bersahabat setia dengan para musyrikin dan para munafikin, karena mereka sependirian dalam memusuhi Nabi dan para mukmin. Akan tetapi kebanyakan dari mereka bersifat curang menyimpang dari batas-batas agama dan dasar-dasar yang umum. Mereka hanya mengingini kemegahan dan menjadi pemimpin. Mereka lebih mengutamakan hawa nafsu, walupun dengan melalui jalan-jalan curang.
Adapun sebab begitu beratnya permusuhan para Yahudi tehadap para mukmin, karena mereka itu sangat mengingkari kebenaran dan merusakkan hak. Mereka mendengki manusia terhadap nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia itu, lebih-lebih lagi yang berlaku demikian adalah orang-orang yang berpengetahuan dan pemuka agama. Nabi SAW menerima gangguan dan permusuhan dari Yahudi Hijaz di Madinah dan sekitarnya dan dari para musyrikin Arab terutama penduduk Mekah sekitarnya. Sejarah lama dan baru penuh dengan kejadian-kejadian yang menggambarkan keburukan mereka itu. Maka apabila kita dapatkan pada ketika orang-orang Yahdi kepada uamat Islam yang demikian itu didorong oleh sesuatu kemaslahatn politiknya supaya mereka terlepas dari penindasan orang-orang Nasrani.
Nabi telah mendapatkan bahwa orang-orang Nasrani Habsyah sangat bagus hubungannya dengan para mukmin. Di permulaan Islam mereka melindungi orang-orang Muhajirin yang diutus oleh Rasulullah dari Mekah ke Habsyah karena dikhawatirkan mendapat gangguan para musyrikin. Bahwasannya sebab orang-orang Nasrani itu mempunyai kasih sayang terhadap para mukmin kerena di antara mereka itu ada orang-orang yang berusaha memberi pelajaran kepada masyarakatnya, mengheningkan budi pekerti, mendidik keutamaan-keutamaan dan menanamkan teladan-teladan yang tinggi dan ada di antara mereka orang-orang yang mendidik masyarakatnya berlaku lurus dan memalingkan diri dari hiasan dunia. Mereka menyembah Allah karena mengharap akan memperolh pahalaNya. Dan mereka itu senuanya berlaku rendah hati, tidak membesarkan diri. Ulama-ulama Nasrani itu tidak mendidik pengikutnya-pengikutnya menjadi orang-orang yang fanatic buta. Berbeda dengan orang-orang Yahudi yang berusaha menanam benih fanatic kebangsaaan di dalam dada umatnya.
Apabila mereka yag berkata bahwa kami ini orang Nasrani, mendengar ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Muhammad, niscaya engkau lihat mereka meneteskan air mata karena meyakini kebenaran yang diterangkan oleh Al Quran yang membenarkan isi kitab mereka serta bersesuaian dengan sifat-sifat yang ada pada mereka. Mereka tidak sombong dan tidak memisahkan diri dalam menghadapi kebenaran. Mereka berkata : Wahai Tuhan kami, kami telah beriman maka jadikanlah kami besarta orang-orang yang menjadi saksi untuk para Nabi dan para Rasul pada hari kiamat. Mereka mengucapkan perkataan yang tersebut dengan maksud mewujudkan imannya dan memohon kepada Allah supaya mereka itu dan memasukan mereka ke dalam golongan umat Muhammad. Mereka mengetahui dari kiatb-kitab mereka bahwa Nabi yang akhir, beserta pengikut-pengikutnya menjadi saksi-saksi terhadap manusia dan menjadi hujjah atas segala orang kafir. Umat Muhammadlah yang akan menjadi saksi pada hari kiamat bagi Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
Korelasi penjelesan ayat di atas dengan hubungan muslim dan non muslim adalah bahwasannya kita harus waspada dan lebih hati-hati kepada kaum Yahudi dibandingkan dengan kaum Nasrani alasannya di dalam Quran kebanyakan kecaman terhadap ahli Kitab ditujukan kepada orang Yahudi, bukan orang Nasrani. Ini disebabkan karena sejak semula ada perbedaan sikap di antara kedua kelompok Ahli Kitab itu terhadap kaum Muslimin.
Para pendeta relatif berhasil menanamkan ajaran moral yang bersumber dari ajaran Isa a.s sedang para rahib yang mencerminkan sikap zuhud (menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi dengan berkonsentrasi para ibadah), berhasil pula memberi contoh kepada lingkungannya. Keberhasilan itu didukung pula oleh tidak adanya kekuatan sosial politik dari kalangan mereka di Mekah dan Madinah, sehingga tidak ada factor yang mendukung gesekan dan benturan antara kaum Muslim dengan mereka.
Ini bertolak belakang dengan kehadiran orang Yahudi apalagi pendeta-pendeta mereka dikenal luas menerima sogok, memakan riba dan masyarakatnya pun amat materialistis-individualistis. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penyebab utama lahirnya benturan, bukannya ajaran agama, tetapi ambisi pribadi atau golongan, kepentingan ekonomi dan politik, walaupun harus diakui bahwa kepentingan tersebut dikemas dengan kemasan agama, apalagi bila ajarannya disalahpahami.



BAB VI
KESIMPULAN

1. Seorang muslim harus memiliki tatanan teologis atau keyakinan,Islam mengajarkan dua prinsip yang harus diikuti oleh umat Islam, yaitu prinsip ketegasan dan prinsip kebebasan. Ketegasan keyakinan atau aqidah Islam dinyatakan dengan prinsip Tauhid, yaitu keesaaan Tuhan Allah, sebagaimana siisyaratkan dengan jelas oleh ayat 255 Al Baqarah yang sering dikenal ayat kursi. Ayat kursi adalah sangat tegas dalam menyatakan keesaaan (wahdaniyatullah), kekuasaan (qudratullah), ilmu Allah (ilmullah) dan segala kebesaranNya atas segala yang wujud. Tegasnya tauhid mengimplikasi kepada tegasnya unuk menolak segala bentuk syirik (kemusyrikan). Jai, dalam pandangan Islam kebenaran hanya satu yaitu kebenaran tauhid dan di luar itu adalah kmusyrkan yang diliputi kebatilan dan kesesatan sehingga yang ada pada mereka (Yahudi) walaupun sudah mngetahui isi kitabnya namun mereka berpaling dari pernyataan yang ada pada kitab yang membenarkan Nabi Mhammad SAW yang harus diimani dan diikuti ajarannya yang disebakan kebanyakan mereka sudah terkenal sebagai pelanggar janji di setiap masa. Hingga saat ini dan kebanyakan mereka tidak dapat diharapkan untuk menjadi teman, karena kesesatan telah sangat berpengaruh dalam jiwa mereka.
2. Dalam menjalin hubungan muslim dan non muslim baik di kalangan masyarakat sebagai warga Negara ataupun internasional, Islam pun memiliki prinsip dan aturan main sendiri. Hal ini telah dijumpai dalam sirah Nabi dan para sahabatnya, misalnya bahwa mereka tidak bekerjasama dengan pemerintahan non muslim dalam kekafiran, kemusyrikan, kesetian dalam kejayaan dan agama mereka (non muslim). Ajaran Islam hanya melakukan hubungan duniawi yang baik di luar aqidah mereka yang bathil itu.
3. Bahwasannya al Quran menggambarkan pendirian, pandangan, sikap dan tindakan Ahli Kitab itu, terutama umat Yahudi dan Nasrani, terhadap agama Islam dan kaum Muslimin. Di antara merek, sebagimana umumnya umat yang banyak ini ada yang baik dan ada yang jahat. Semuanya diterangkan secara ringkas untuk menjadi perhatian dan pemikiran.
4. Diharapkan kepada kaum muslimin supaya waspada terhadap tujuan dan tipu muslihat Ahli Kitab yang hendak menyesatkan, menjadi kafir sesudah beriman. Juga kepada Ahli Kitab diperingatkan, supaya jangan mencampurbaurkan yang hak dengan yang bathil, menyumbinyakan kebenaran dan menghalangi orang lain menmpung jalan Allah. Kepada uamt Kristen, diperingatkan supaya jangan melampaui batas dalam agama, jangan mengatakan Tuhan itu tiga. Ditegaskan bahwa Isa Al Masih hayalah seorang Rasul, bukan Tuhan, bukan oknum Tuhan atau anak Tuhan. Diterangkan pula, bahwa di antara mereka ada yang beriman dan banyak pula yang jahat.
5. Bahwasannya kita harus waspada dan lebih hati-hati kepada kaum Yahudi dibandingkan dengan kaum Nasrani alasannya di dalam Quran kebanyakan kecaman terhadap ahli Kitab ditujukan kepada orang Yahudi, bukan orang Nasrani. Ini disebabkan kaenasejak semula ada perbedaan sikap di antara kedua kelompok Ahli Kitab itu terhadap kaum Muslimin.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. 2000. Bulughu al Maram. Jakarta: Pustaka Amani.
Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan As Suyuti. 2006. Tafsir al-Quranul al-‘Azhim, li al-Imam al-Jalalain. Bandung: Al-Ma’rif.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1995. Tafsir Al Maraghi. Semarang: Toha Putra
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 2006. Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta.
As Shidiqy, Teungku M. Hasbi. 1995. Tafsir Al Quranul Majid. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.
Fachruddin, H. 1992. Ensiklopedia Al Quran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Shihab, M. Quraish. 2003. Wawasan Al Quran. Bandung: PT.Mizan Pustaka.
Shihab, M. Quraish. 1994. Membumikan Al Quran. Bandung: PT. Mizan.
Muhammad, Abu Bakar, Drs. 2001. Kumpulan Materi Khotbah & Ceramah. Surabaya: Amelia.
Noor, Mawardi, dkk. 2002. Garis-garis Besar Syariat Islam. Jakarta Selatan: Khairul Bayan.






KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT., karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun makalah ini yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Tafsir 3.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kesalahan dan kekurangannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan penyusunan makalah ini.
Dengan penulisan ini semoga kita dapat melaksanakan dan meningkatkan ibadah kita dengan rasa iman, khusyu maupun bathin. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah serta inayahNya kepada kita semua. Amiin.


Cipasung, Maret 2008


Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II TAFSIR QURAN SURAT AL BAQARAH AYAT 100-101 3
A. Teks dan Terjemah Ayat 3
B. Tinjauan Bahasa 3
C. Redaksi 4
BAB III TAFSIR QURAN SURAT ALI IMRAN AYAT 69, 75 DAN 128 7
A. Teks dan Terjemah Ayat 7
B. Tinjauan Bahasa 8
C. Redaksi 8
BAB IV TAFSIR QURAN SURAT AN NISA AYAT 51-53 12
A. Teks dan Terjemah Ayat 12
B. Tinjauan Bahasa 12
C. Redaksi 13
D. Penjelasan 14
BAB V TAFSIR QURAN SURAT AL MAIDAH AYAT 78-83 18
A. Teks dan Terjemah Ayat 18
B. Tinjauan Bahasa 19
C. Redaksi 20
BAB VI KESIMPULAN 25
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar