Rabu, 02 Juni 2010

makalah indonesia ragam bahasa

RAGAM BAHASA;
REGIONAL, BAHASA BAKU, NON BAKU DAN SERAPAN

A. Ragam Bahasa Regional
Ragam regional membedakan bahasa yang dipakai di suatu daerah dengan bahasa yang ada di lain daerah. Pemakaian bahasa Indonesia di Jawa Barat, misalnya, sedikit berbeda dengan pemakaian bahasa di Jawa Tengah, di Jawa Timur, di Maluku, di Irian Jaya dan di daerah-daerah lain. Ragam bahasa menurut keempat itu disebut dialek geografie.
Tiap-tiap bahasa juga mempunyai dialek sosial yang membedakan bahasa yang dipakai oleh suatu kelompok sosial dari kelompok sosial yang lain. Ciri-ciri bahasa yang dipakai oleh para sarjana, nelayan, petani, dan kelompok sosial lainnya, masing-masing menandai suatu dialek sosial. Di samping itu ragam bahasa ditentukan pula oleh situasi dan kondisi pemakainya, ragam bahasa yang demikian dinamakan dialek pribadi.

B. Ragam Bahasa Baku dan Non Baku
Ragam bahasa baku ialah ragam bahasa yang dipergunakan dalam masyarakat yang mempunyai nilai komunikatif paling tinggi, standar dan fungsinya terikat oleh kepentingan nasional. Dengan kata lain, bahasa baku dipakai dalam situasi/lingkungan resmi dan pergaulan sopan, seperti dalam surat menyurat resmi, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan, karangan-karangan ilmiah, buku-buku pelajaran, dan pidato kenegaraan. Berdasarkan fungsi itulah, bahasa baku terikat oleh tulisan baku, ejaan baku, kosa kata, tata bahasa, dan pelafalan baku.
Bahasa non baku digunakan dalam lingkungan tidak resmi, seperti surat menyurat di antara teman akrab, tawar menawar dalam jual beli. Penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi dan kondisi semacam itu tidak terikat oleh kaidah bahasa, bahkan ada kalanya penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi santai dicampur dengan unsur-unsur kata dari bahasa daerah maupun asing.
Perlu diperhatikan, bahwa dalam situasi resmi penggunaan bahasa Indonesia tidak hanya terikat oleh norma/kaidah bahasa, akan tetapi juga bergantung kepada lingkungan dan situasi tempat si pembicara dan orang yang diajak bicara. Dengan kata lain, kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik adalah bahasa yang penggunaannya sesuai dengan situasi, orang yang diajak bicara, dan sesuai pula dengan tempat yang dipakai bicara.
Di bawah ini merupakan ciri-ciri bahasa Indonesia Baku:
a. Memakai lafal baku (dalam bahasa lisan)
Meskipun sampai saat ini belum ada standarlisasi ucapan/lafal yang dapat dipakai sebagai pegangan bahwa lafal bahasa daerah/dialek juga tidak memperdengarkan warna lafal bahasa asing seperti lafal bahasa Belanda, Inggris, atau Arab.
b. Memakai ejaan resmi (pada bahasa tulisan.
c. Terbatasnya unsur bahasa daerah, baik leksikal maupun gramatikal. Unsur leksikal ialah unsur bahasa yang berkaitan dengan kata, seperti ‘ketemu’ seharusnya ‘bertemu’; ‘cumah’ seharusnya ‘Cuma’. Unsur gramatikal ialah unsur yang bersifat ketatabahasaan, contoh:
− Rumahnya paman jauh dari sini (seharusnya ‘rumah paman’).
− Ia benci sama saya (seharusnya ‘kepada saya’).
− Ia pergi sendirian (seharusnya ‘seorang diri’).
− Budi pandai sendiri di kelas ini (seharusnya ‘paling pandai’).
− Sepatunya kekecilan (seharusnya ‘terlalu kecil’)
d. Pemakaian fungsi gramatikal subjek, predikat, objek, dan sebagainya secara eksplisit dan konsisten. Contoh:
Non Baku Baku
− Ayah ke Solo
− Kakak di kamar − Ayah pergi ke Solo
− Kakak ada di kamar
e. Pemakaian kata tugas ‘bahwa’ atau ‘karena’ (kalau ada) secara eksplisit atau konsisten. Misalnya:
Non Baku Baku
− Ia tahu aku datang
− Iwan tidak percaya kepadaku, aku dikiranya bohong − Ia tahu bahwa aku datang
− Iwan tidak percaya kepadaku karena aku dikiranya

f. Pemakaian awalam ‘me’ atau ‘ber’ (bila perlu) secara eksplisit dan konsisten. Misalnya.
Non Baku Baku
− Anak itu lari-lari menemui ibunya
− Dialah yang ngambil uangku
− Nenek datang sambil bawa oleh-oleh
− Adik saya belum bisa jalan − Anak itu berlari-lari menemui ibunya
− Dialah yang mengambil uangku
− Nenek datang sambil membawa oleh-oleh
− Adik saya belum bisa berjalan

g. Pemakaian kata depan yang tepat
Non Baku Baku
− Jangan bicara semacam itu dengan orang tua
− Di pagi hari ayah tentu berjalan-jalan − Jangan bicara semacam itu pada orang tua
− Pada pagi hari ayah tentu berjalan-jalan

h. Pemakaian pola aspek, pelaku, tindakan secara konsisten. Misalnya:
Non Baku Baku
− Berita itu saya sudah baca di koran
− Hutang orang itu aku belum tagih
− Mengenai persoalan itu saya akan terangkan nanti − Berita itu sudah saya baca di koran
− Hutang orang itu belum aku tagih
− Mengenai persoalan itu akan saya terangkan
i. Memakai konstruksi sintaksis
Misalnya:
Non Baku Baku
− Dia punyai teman
− Dikasih tahu
− Dibikin kotor − Temannya
− Diberi tahu
− Dikotori

C. Unsur Serapan
Kata-kata dalam bahasa Indonesia ada yang diserap dari berbagai unsur bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Di bawah ini sumber-sumber bahasa yang dapat dipergunakan
a. Bahasa Indonesia/Melayu
Kosa kata umum Bahasa Indonesia/Melayu dapat dijadikan sumber bahan istilah bila memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Kata yang paling tepat dan tidak menyimpang maknanya, jika ada dua kata atau lebih yang mempunyai makna hampir sama.
Contoh:
Bea : Pajak barang masuk dan keluar
Cukai : Pajak kecil perusahaan atau industri
Pajak : Iuran wajib dari rakyat sebagai sumbangan kepada negara
2. Kata yang paling singkat, jika ada dua kata atau lebih yang mempunyai tujuan sama
Contoh:
Perlindungan politik = Suaka politik
Perbendaharaan kata = Kosa kata
3. Kata yang bernilai rasa baik dan sedap didengar
Contoh:
Pemandu wisata = penunjuk jalan
Pembantu rumah tangga = babu
Pekerja = Karyawan
4. Kata umum yang diberi makna baru atau makna khusus dengan jalan menyempitkan atau meluaskan makna asalnya
Contoh:
Dini, dini hari = belum waktunya/awal sekali. Dini yang semula hanya terdapat dalam gabungan kata dini hari, diberi arti baru.
Menggalakkan, yang semula berarti menjadi galak, diberi arti baru mendrong/memberi semangat.
b. Bahasa Daerah
Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa Nasional tidak dapat melepaskan diri dari pendirian unsur-unsur bahasa Daerah, karena bahasa Indonesia merupakan cermin kebunayaan Nasional. Sumbangan bahasa daerah terutama megenai kosa kata, bukan main banyaknya baik yang sudah diterima menjadi marga bahasa Indonesia maupun belum digali atau belum belum diketahuinya bagi penyempurnaan bahasa Indonesia itu sendiri.
Berikut ini beberapa contoh sumbangan kata-kata yang berasal dari bahasa Daerah yang mengisi kota kata bahasa Indonesia.
1. Tuntas : berasal dari bahasa Jawa yang telah dijadikan istilah bahasa Indonesia yang berarti selesai sepenuhnya.
2. Kadaluarsa : berasal dari bahasa Jawa yang berarti habis batas waktunya/tidak berlaku lagi.
3. Pesangon : berasal dari bahasa Jawa yang berarti bekal untuk keperluan di perjalanan.
4. Lugas : berasal dari bahasa Jawa yang berarti apa adanya/tidak berbelit-belit.
5. Nyeri : berasal dari bahasa Sunda yang menunjukkan pengertian merasa sakit pada salah satu bagian tubuh.

c. Bahasa Asing
Sumber bahasa Asing dipergunakan bila bahan pembentukan istilah yang diinginkan tidak ada/tidak ditemukan dalam bahasa melayu. Ada dua dasar umum yang perlu diperhatikan dalam proses penyerapan istilah yang berasal dari bahasa Asing, yaitu:
1. Bila diperlukan istilah yang diserap dari bahasa Asing, maka bahasa sumber utama yang dipakai adalah bahasa Inggris. Hal ini diambil atas dasar pertimbangan bahwa bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang diakui dan dipakai oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan diakui pula sebagai bahasa antar bangsa di dunia.
2. Bila istilah Asing yangd iperlukan itu tidak dapat diganti dengan kata-kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, maka istilah Asing kita ambil dengan memperhatikan bentuk visualnya/ tulisannya bukan ucapannya.

D. Penyimpangan Kaidah Bahasa Indonesia Baku
1. Bidang Morfologi
Bagaimanapun kaidah yang sering dipakai, kita jumpai dalam bidang morfologi menyangkut penggunaan bentuk kata-kata yang terdapat dalam suatu konteks hubungan kalimat.
Berikut ini beberapa penyimpangan kaidah bahasa dalam bidang morfologi, antara lain:
a. Keberatan – berkeberatan
Non baku : “Saya sama sekali tidak keberatan meminjamkan buku ini kepada saudara.”
Baku : 1. Saya sama sekali tidak berkeberatan meminjamkan buku ini kepada saudara.
2. Dia mengajukan beberapa keberatan terhadap keputusan rapat.
b. Ditikahkan – dinikahkan
Non baku : “Anak sulung paman saya akan ditikahkan bulan depan.”
Baku : “Anak sulung paman saya akan dinikahkan bulan depan.”
c. Dikata – dikatakan
Non baku : “Hasil perundingan boleh dikata sangat memuaskan.”
Baku : “Hasil perundingan boleh dikatakan sangat memuaskan.”
d. Ketemu – diketemukan – ditemukan
Non baku : ”Sampai hari ini kamus yang hilang belum ketemu.”
Baku : ”Sampai hari ini kamus yang hilang belum diketemukan.”
e. Dipasak – dimasak
Non baku : “Apakah daging itu sudah dipasak.”
Baku : “Apakah daging itu sudah dimasak.”
f. Ilmiawan – ilmuwan
Non baku : “Para ilmiawan memegang peranan penting dalam perkembangan.”
Baku : “Para ilmuwan memegang peranan penting dalam perkembangan.”
g. Merubah – mengubah
Non baku : “Kita harus berani merubah peraturan yang tidak sesuai dengan keadaan.”
Baku : “Kita harus berani mengubah peraturan yang tidak sesuai dengan keadaan.”
h. Dapat – mendapat
Non baku : “Haris dapat nilai bagus pada ulangan kali ini.”
Baku : “Haris mendapat nilai bagus pada ulangan kali ini.”
i. Menugaskan – menugas
Non baku : “Pemerintah menugaskan kami meneliti kebudaya-an suku dayak.”
Baku : “Pemerintah menugasi kami meneliti kebudayaan suku dayak.”
j. Berdasar – berdasarkan
Non baku : “Dia diangkat menjadi ketua baru berdasar keputusan rapat.”
Baku : “Dia diangkat menjadi ketua baru berdasarkan keputusan rapat.”
k. Menegasi – menegaskan
Non baku : “Pemerintah menegaskan kami meneliti kebudayaan suku dayak.”
Baku : “Pemerintah menegasi kami meneliti kebudayaan suku dayak.”
l. Suatu – sesuatu
Non baku : “Ada sesuatu masalah yang perlu dibicarakan.”
Baku : “Ada suatu masalah yang perlu dibicarakan.”

2. Bidang Sintaksis (Tata Kalimat)
a. Tetapi – Melainkan
Non baku : “Bukan warna biru yang akan saya pilih tetapi warna yang hijau.”
Baku : 1. Bukan warna biru yang akan saya pilih melainkan warna yang hijau.
1. Anak itu tidak pandai, tetapi ia rajin.
2. Teman saya bukan guru, tetapi ia mempunyai bakat mengajar.
b. Bersama ini – dengan ini
Non baku : “Bersama ini saya sampaikan kepada saudara, bahwa rapat bulan depan dibatalkan.”
Baku : “Dengan ini saya sampaikan kepada saudara, bahwa rapat bulan depan dibatalkan.”
c. Di – pada
Non baku : 1. Di zaman dulu orang-orang bepergian naik kuda.
2. Kebisaan seperti itu tidak ada di kita.
3. Dia bekerja pada pabrik tekstil.
4. Bulan bersinar di malam hari.
d. Di mana – yang mana – tempat – yang
Non baku : 1. Kota di mana saya dilahirkan letaknya di kaki gunung.
2. Rumah di mana saya diami belum dicat.
3. ia mendapat hadiah uang yang mana akan digunakan untuk membeli pakaian.
e. Tiap – setiap – “tiap-tiap” – “masing-masing”
Non baku : 1. Tiap mahasiswa diberi kesempatan menempuh ujian akhir tiga kali.
2. Masing-masing peserta ujian tidak diizinkan membawa buku catatan ke dalam kelas.

3. Kalimat
Gejala bahasa yang dalam bahasa indonesia diistilahkan dengan kerancuan, artinya kacau, jadi maknanya kekacauan, yang dirancukan ilaah susunan perserangkaian dan penggabungan-penggabungan unsur yang masing-masing berdiri sendiri disatukan dalam satu perserangkaian baru yang tidak berpasangan, hasilnya ialah kerancuan. Kontaminasi dapat terjadi pada kalimat susunan kata dan bentukan kata.
a. Kontaminasi Kalimat
Pada umumnya kalimat yang rancu dapat kita kembalikan kepada kalimat asal yang betul strukturnya
Contoh kalimat rancu:
1. Dalam bahasa Indonesia tidak mengenal konjungasi
2. Kepada yang merasa kehilangan uang, harap datang di kator tata usaha.
3. Di sekolah murid-murid dilarang tidak boleh merokok
Kalimat Asalnya:
1. a. Dalam bahasa Indonesia tidak dikenal konjungasi
b. Dalam Indonesia tidak mengenal konjungasi
2. a. Yang merasa kehilangan uang, harap datang di kator tata usaha.
b. Kepada yang merasa kehilangan uang, diberitakan supaya datang di kantor tata usaha.

b. Kontaminasi Susunan Kata (Erase)
Contoh:
1. Berulang kali : Berulang – ulang
: Berubah
2. Seringkali : Sering
: Kerap kali
3. Belum usah : Belum boleh
: Tidak usah
4. Dikemudian kali : Di kemudian hari
: Lain kali

c. Kontaminasi Bentuk Kata
Contoh:
1. Dipelajarkan : Dipelajari
: Diajarkan
2. Dipertinggikan : Dipertinggi
: Ditinggikan

Gejala pleonasme (kata yang berlebihan)
1. Dalam satu erase terdapat dua atau lebih kata yang searti
Contoh:
- Pada zaman dahulu kala banyak orang yang menyembah berhala.
- Mulai dari waktu itu dia jera berjudi.
- Sejak dari kecil ia sakit-sakitan
- Sangat sedikit sekali
2. Kata kedua sebenarnya tidak perlu dibagi, karena pengertiannya sudah terkandung pada kata yang pertama.
Contoh:
“Ada yang perlu dijelaskan sebagai gaya naik ke atas, turun ke bawah, melihat dengan matga, menendang dengan kaki, dan maju ke depan.”
3. Bentuk jamak dinyatakan dua kali
Contoh:
- Para guru-guru sedang bermusyawarah
- Beliau telah mengunjungi beberapa negara-negara
- Banyak lukisan – lukisan
4. Bentuk saling dinyatakan dua kali
Contoh: “Saling pukul-memukul”
5. Bentuk meskipun yang dinyatakan dua kali
Contoh: “Meskipun hujan-hujan ia datang juga”
6. Kata sambung yang bertumpuk
Contoh: “Demi untuk” , “Agar supaya”, “Jika seandainya”, “Disebabkan oleh karena”.

DAFTAR PUSTAKA

Ambary, Abdullah. dkk. 1996. Penuntun Terampil Berbahasa Indonesia SLTP Kelas 1. Bandung: Djatmika.
Badudu, J.S. 1993. Pintar Berbahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Taringin, Henry Guntur. 1985. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, shalawat dan salam semoga selalu tercurah atas Nabi akhir zaman, Muhammad rahmat bagi seluruh alam, yang risalahnya tak akan sirna sampai hari qiyamah.
Dalam pembutan paper ini selain mencoba mengajak pembaca ke arah pemahaman bahasa Indonesia yang komprehensif, aktual, segar dan integral, juga telaah memberikan petunjuk tentang bagaimana penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Akhirnya, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sehangat-hangatnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya paper ini, semoga Allah Swt. memberkahi kita sekalian. Besar harapan penulis kepada pembaca, sudikah kiranya untuk memeriksa Paper ini supaya tercapai kesempurnaan di dalam penyusunan paper-paper di masa yang akan datang.



Cipasung, Januari 2009

Penyusun


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
A. Ragam Bahasa Regional 1
B. Ragam Bahasa Baku dan Non Baku 2
C. Unsur Serapan 4
D. Penyimpangan Kaidah Bahasa Indonesia Baku 6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar