Kamis, 24 Juni 2010

khutbah tentang anak soleh

KHUTBAH PERTAMA
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ ……
اَ ْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ قَدَّرَ عَلَيْنَا بِالْجَمَاعَةِ وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمِنْ تَبِعَهُ اِلَي يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ.أّمَّا بَعْدُ.فَيَااَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِالتَّقْوَي االلَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِا للَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ :•                (النساء: 9)

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah yang maha ghofur, shalawat dan salam marilah kita limpah curahkan kepada baginda kita yang menjadi uswah bagi umatnya a'ni habibana wanabiyana Muhammad SAW, tidak lupa kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan tabin-tabiin yang turut setia pada ajarannya sampai hari kiamat termasuk ummatnya.

Sidang Jum'ah rahimakumullah
Khotib berwasiat khusus kepada khotib umumnya kepada semua ahli jumat, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Salah satu untuk bertaqwa kepada Allah adalah menjaga diri dan ahli kita sebagaimana Allah berfirman dalam al-qur'an :
يَااَيُّهَالَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا ..............
Artinya :"Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kamu dan ahli kamu masuk api neraka". (Q.S. )
Jadi kita sebagai orang yang beriman harus bisa menjaga diri jangan sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, setelah itu ahli kita, siapa? Yaitu Saudara, sanak keluarga dan lain sebagainya terutama anak kita. Yang mana anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa, apakah ke arah yang ma'rup? Apakah ke arah yang mungkar?

Hadirin Rohimakumullah
Setiap orang tua berkeinginan anaknya menjadi anak yang soleh solehah, tujuannya agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa dan membahagiakan orang tuanya. Namun untuk mencapai hal tersebut harus ada usaha yang benar-benar sebagaimana tuntunan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Namun ada saja orang tua karena salah mengarahkannya bahwa cara untuk membalas jasa dan membahagiakannya yaitu dengan materi, sehingga orang tua berkeinginan anaknya menjadi bintang film (artis), photo model dan lain sebagainya, walaupun kehormatan hilang, bergaul bebas, berpeluk-pelukan mereka tidak peduli asalkan mendapatkan uang yang banyak, Sedangkan ke imanan dan keyakinannya tidak dibina dengan betul-betul, yang pada akhirnya keyakinan dan keimanan akan melemah. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi lemah keyakinan dan keimannya juga jauh dari agamanya yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman :
•               
Artinya :“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”. (An Nisa : 9).
Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak.
Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin. (Tafsir Ibnu Katsir : I, hal 432). Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan.



Jamaah jum’at rahimakumullah
Maka dari itu untuk mempunyai anak yang soleh kita harus mendidik anak-anak sejak dini, pertama oleh orang tua, diajarkan bagaimana caranya shalat, puasa dan lain sebagainya, kemudian di sekolahkan ke jenjang pendidikan yang berdomisi ke islaman, agar anak kita bisa tahu mana perintah, mana larangan mana yang halal dan mana yang haram. Sehingga apabila sudah tercapai apa yang kita cita-citakan yaitu anaknya menjadi anak yang soleh maka berbahagialah, bukan saja bahagia di dunia tetapi akan bahagia di akhirat. Bahkan kita akan mendapat amal yang terus mengalir walaupun kita sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, :
وَعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّي عَلَيهِ وَسَلَّمَ : إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ, رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Artinya :“Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (H.R.Muslim).
Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala, dan menjauhi larangan-laranganNya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan DienNya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus.
Oleh karena itu kalu kita menginginkan anak yang soleh kita harus jaga dengan sebaik-baiknya agar anak kita tidak terjerumus pada jurang kema'siatan.

Jama'ah jum’at rahimakumullah
Itu saja yang bisa khotib sampaikan untuk meningkatkan keimana dan ketakwaan kepada Allah yaitu dengan cara menjaga diri dan ahli kita, mudah-mudahan kita menjadi oranng-orang yang bahagia dunia dan akhirat. Amiin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ بِاْلاَيَاتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمْ وَتَقّبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتُهُ اِنَّهُ هَوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمْ"

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَتِ اْلاِيْمَانِ وَاْلاِسْلاَمِ وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ اْلاَنَامِ وَ َعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ يُنَابِيْعُ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَامِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَااَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِالتَّقْوَي االلَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِا للَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِي وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَبَارِكْ عَلَيْهْ, اَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar